skip intro/masuk

Logo sciemics

SEEd 2014 Temilreg Fossei Jabar

Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam Nasional 2014 dengan tema Pendidikan

SEEd 2014 Temilreg Fossei Jabar

Lomba Poster tentang Ekonomi Islam tingkat SMA se-Jawa Barat 2014

SCIEmics UPI

Study Community Of Islamic Economics--- Bersiaplah bergabung dengan kami!

Alhamdulillah SAT 2013 SUKSES!! :)

"Gali Potensi, Meraih Mimpi, Wujudkan prestasi"

Congratulation for SCIEmics UPI

Alhamdulillah.... juara umum lagi....di Temilreg 2013 FoSSEI JABAR

h M
Tampilkan postingan dengan label pasar islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasar islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

PASAR ISLAM SCIEmics PART I

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabar sahabat???
InsyaAllah tetap sehat, dan semangat yaa...

Beberapa waktu dekat kemarin, KSEI SCIEmics UPI mengadakan acara pertamanya, yaitu PASAR ISLAM. Pasar islam ini, merupakan proker dari departemen Public Relation, yang insyaallah akan diadakan rutin setiap 2 bulan sekali. Pasar islam yang pertama kami adakan pada tanggal 30-31 Maret 2011 dan 1 April kemarin, yang bekerja sama dengan Wakala serta paguyuban pedagang islam pak Thoriq bin Jured. PASAR ISLAM yang diadakan tiga hari ini mengambil tema , "Berniaga Unik Berniaga Ala Rasul"

suasana PASAR ISLAM


Bagaimana kok bisa unik?? Jadi, transaksi yang kami lakukan adalah menggunakan mata uang emas dan perak. Eittss. emas dan perak asli loh.. bukan kuningan atau alumunium seperti mata uang negara kita. Satuannya ada banyak, ada dinar (emas 2,45 gr) setara dengan 1,7juta rupiah, serta dirham (2,45 gr perak) setara dengan 43ribu rupiah (nilai saat post dibuat) dan daniq yaitu satuan terkecil yang terbuat dari perak dengan  nilai 7ribu rupiah.


Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan mata uang emas dan perak yang memiliki nilai intrinsik dan tahan inflasi kepada para penduduk KAMPUS UPI. Acaranya alhamdulillah berjalan lancar dan sukses. Ada beberapa stand yang dibuka, sekitar 6 stand dari paguyuban pak Thoriq, sisanya ada bazaar buku dari mizan serta stand-stand bisnis dari anak-anak SCIEmics sendiri, seperti cokomie (budi dkk), yogurtQu  (Aris dkk), susu murni (indra), peralatan gunung (randy), risol spagethi (dewi dan sona).

Bahkan, acara kita kali ini, diliput oleh harian PIKIRAN RAKYAT bandung lohhh.. wahh. sungguh prestasi bagi SCIEmics. Edisi tanggal 7 April 2011, ada di halaman 30. Dan juga ada beberapa artikel di dunia web yang membahas tentang pasar islam KSEI SCIEmics UPI.

Tentunya, ini menjadi sebuah motivasi lebih untuk kami, agar bisa terus semangat mendakwahkan sistem ekonomi islam di tengah-tengah masyarakat. Khususnya masyarakat Bandung. Bersama KSEI-KSEI lainnya di bandung, kami memiliki mimpi untuk bisa membumikan ekonomi islam di Indonesia. aamiin. 
Semoga kami tetap istiqomah. ^^
PANITIA IKHWAN SCIEmics

Ketua Pelaksana PASAR ISLAM (Helmy Cahya-MGT 2010)

TIM SCIEmics beserta Paguyuban Pedagang Islam


Sabtu, 26 Maret 2011

BERNIAGA UNIK ALA RASULULLAH ^^

Bismillahirrahmanirrahim

STUDY COMMUNITY OF ISLAMIC ECONOMICS (SCIEmics) UPI
Present

HAYOOO. UNTUK SAHABAT SEMUA YANG BELUM PERNAH BERTRANSAKSI DENGAN MATA UANG EMAS DAN PERAK (DINAR DAN DIRHAM), DATANG AJAA KE..
PASAR ISLAM
SCIEmics UPI
MENJALANKAN TRANSAKSI DENGAN MATA UANG ANTI INFLASI. 
DATANG DAN RASAKAN SENSASINYAAA ^^

Jumat, 25 Maret 2011

A Necessary Evil Bernama Pasar...

Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 24 March 2011 08:25
Salah satu tempat yang paling dibenci oleh Allah di muka bumi ini adalah pasar, hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar." (Shahih Muslim, 1076).  Tetapi sepintas mungkin nampak ironi, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahkan juga mendirikan  pasar bagi kaum muslimin. Mengapa demikian ?.

Inilah apa yang dalam istilah modern disebut a necessary evil, yaitu bisa jadi suatu hal itu banyak ke burukannya – tetapi keberadaannya diperlukan. Justru disinilah letak sempurnanya agama ini, bahkan untuk mengatasi atau mengelola tempat yang paling dibenci Allah-pun ada tuntunanannya.

Allah dan RasulNya tentu lebih mengetahui mengapa pasar menjadi tempat yang dibenci olehNya, tetapi bisa jadi ini karena di pasar pada umumnya banyak sekali penipuan, pengelabuhan, pengurangan timbangan, sumpah palsu dan berbagai kecurangan lainnya.

Bila pasar di artikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, maka ‘pasar’ yang paling dibenci Allah tersebut –pun kini  menjadi sangat luas cakupannya. Karena banyak sekali kebutuhan kita sekarang yang tidak lagi kita beli di ‘pasar’ dalam arti fisik. Kita bisa membeli kebutuhan kita atas barang atau jasa  lewat internet, lewat kantor-kantor perusahaan penyedia barang dan jasa tersebut atau bahkan salesman-nya yang datang ke rumah-rumah kita untuk menjajakan produknya.

Lantas apakah tempat-tempat ‘jualan’ yang kini  termasuk kantor atau juga rumah-rumah yang dijadikan tempat usaha tersebut juga menjadi tempat yang dibenci Allah ?. Bisa jadi bila di dalamnya dilakukan berbagai penipuan, kecurangan dlsb.  Tetapi kita bisa belajar dari para sahabat beliau, yang tentu lebih paham makna dari hadits tersebut diatas dibandingkan dengan kita-kita di jaman ini.

Para sahabat beliau dari kaum anshar yang rata-rata aslinya memang pedagang di Mekah, tetap melakukan jual beli di pasar sampai akhir usianya kecuali yang mendapatkan tugas-tugas khusus seperti menjadi khalifah, gubernur dlsb. Bahkan sebagian sahabat ini-pun dijamin masuk surga seperti sahabat yang super kaya melalui kepandaiannya berdagang di pasar yaitu  Abdur Rahman Bin ‘Auf.

Jadi untuk selamat dari ‘tempat terburuk’ yang berupa pasar ini kita bisa belajar dari para sahabat dalam menyikapi hadits ‘peringatan’ seperti tersebut diatas. Tidak serta merta kita jauhi pasar, karena bila ini yang dilakukan – maka pasar akan dikuasai kaum yang lain yang malah bisa merugikan umat secara keseluruhan.

Sebaliknya kita juga harus mencontoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mendirikan pasar ini – bahwa umat ini harus memiliki pasarnya sendiri, sehingga bisa terbangun didalamnya budaya jual beli yang syar’i dan mendatangkan barakah, dan terbebas dari ketergantungan terhadap pasarnya ‘yahudi’.

Begitu detilnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajari umatnya untuk bisa memperoleh beribu-ribu kebaikan, terhapusnya beribu-ribu  keburukan dan terangkatnya kedudukan beribu-ribu derajat  - bahkan dari tempat yang dibenci oleh Allah sekalipun yaitu pasar ini. Beliau-pun mengajari kita untuk berdo’a sebelum memasuki pasar melalui sabdanya :

"Barangsiapa yang memasuki pasar lalu mengucapkan; LAA ILAHA ILLAALLAH WAHDAHU LAA SYRIKALAH LAHUL MULKU WA LAHL HAMDU YUHYI WA YUMIT WA HUWA HAYYUN LAA YAMUT BIYADIHIL KHAIR WA HUWA 'ALA KULLI SYAI`IN QADIR (Tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan pujian. Dia Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, Dia Hidup dan tidak mati, seluruh kebaikan ada di TanganNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka Allah akan mencatat beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat." Ketika aku tiba di Khurasan dan bertemu dengan Qutaibah bin Muslim, aku berkata; Aku datang kepadamu membawa sebuah hadiah, lalu aku menceritakan hadits itu kepadanya. Ia pun segera mengendarai tungganganya dan menuju ke pasar. Ia berdiri dan membacanya, kemudian kembali pulang. (Sunan Darimi , Hadits no 2576).

Hadits ini meng’inspirasi saya, bahwa suatu saat kelak ketika Bazaar Madinah telah meluas dan ada di mana-mana, di pintu-pintunya ada tulisan besar yang isinya do’a untuk memasuki pasar tersebut. Dengan demikian beribu-ribu orang akan memperoleh “ ...beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat...”.

Bila di pasar saja orang bisa memperoleh kebaikan, tentu di tempat yang paling Allah cintai – Masjid akan lebih banyak lagi kebaikannya. Maka mengikuti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pula, pasar atau bazaar-bazaar yang kita dirikan nantinya tidak terlalu jauh dari masjid agar orang tidak lalai dengan jual beli atau perniagaannya, tidak terlalu dekat pula – agar keramaian atau kebisingan pasar tidak mengganggu aktifitas masjid.

Bazaar Madinah yang pertama yang kami dirikan di Depok berada dalam radius beberapa ratus meter dari 3 Masjid dan dua surau sekaligus, dengan demikian kami berharap para lelaki (rijal) yang beraktifitas didalamnya masuk kategori “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.”  Amin.(QS 24:37)